Selasa, 27 Mei 2008

Dolan ke Rumah Uncle..

Sabtu pagi pekan lalu, aku bertandang ke Karanganyar. Iya, ke rumah Uncle. Letak rumahnya masih di wilayah pusatnya kota Karanganyar. Aku naik bis jurusan Matesih dari terminal Tirtonadi. Cuma naik bis sekali, cuma Rp3000,- lagi, sudah melintasi dua distrik yang berbeda, antara Solo dan Karanganyar. Ingat di Seram dulu, kalau mau ke pasar di Gemba, Waimital dari kantor saja atau mau ke “pelpenyeb” (“pelabuhan penyeberangan kapal feri Seram-Ambon”) naik angkot eh angkudes ding mesti keluar Rp10.000,-. Duh, nanti bagaimana kalau BBM melejit.. Be Big Mouth.. Pesan dari Hartono, teman baruku, nanti aku turun saja di gedung DPRD. Setelah turun, telepon dia biar dia jemput aku.

Baru kali itu aku bertandang ke Karanganyar kota. Biasanya, daerah Karanganyar cuma kulewati. Bahkan cuma di garis-garis perbatasannya thok. Padahal, tidak jauh dari rumahku, juga termasuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Apalagi pabrik gula Colomadu itu, serasa seperti pulau Samosir di tengah-tengah danau Toba, he he.. Aku mesti belajar peta lagi ini, pingin tahu seperti apa sih batas-batas wilayah antara Solo, Sragen, dan Karanganyar. Sekalian buka google-earth. Tapi Karanganyar belum tampak jelas di google-earth. Dan aku pun menebak-nebak di mana letak DPRD.

Aku curiga ketika lewat sebuah bunderan, tapi tak kutemukan barisan gedung pemerintahan di sana. Berarti belum. Lalu, aku curiga lagi sewaktu melihat bendera partai yang dipasang berderet-deret di kiri kanan jalan. Mungkin ini jalur karpet merah menuju DPRD. Ternyata belum ada kompleks gedung pemerintahan juga. Maka, bertanyalah aku pada diriku sendiri. “Di mana sih ya DPRD-nya?”

He he he.. rupanya Mbak-mbak di sebelahku dengar. Untung tadi sudah basa-basi sedikit. Dia tertawa sambil tanya apa aku baru sekali datang ke sini. Aku juga tertawa. Mbak-nya janji mau ingatkan aku kalau sudah sampai di DPRD. Dia sendiri tujuannya ke Karangpandan. Bapak kernet di depanku juga kami pesan, tolong ingatkan kalau sudah lewat di DPRD. Ternyata arah ke DPRD masih harus melewati terminalnya duluan. Lalu persawahan. Lalu ada jalan menikung. Jalan protokol. Dan aku curiga lagi. Kali ini benar. Di sisi kiri, ada gedung kecoklatan bertuliskan “DPRD”. Aha, aku lebih sigap dibandingkan Mbak-nya dan Bapak Kernet. Lha iya, siapa yang butuh turun di situ ya..

Aku turun, tapi tidak tepat di depan gedung. Ada simpang ke jalan yang lebih kecil. Aku duduk di book. Apa itu book? Itu lho semacam tembok gorong-gorong yang bisa diduduki. Istilah itu akrab kudengar dari Ibu, ancer-ancer buat tukang becak belok, dari Pasar Gedhe ke arah rumah di Sama’an. Aku duduk sambil memencet nomor Hartono. Waduh, out of area.. Berulang kupencet, masih sama. Alhasil aku pencet nomornya Uncle.

“Good morning, Yoga!”…
He he he.. Morning juga Om. “I’ve tried to call Hartono, but his phone isn’t active. So I’m sorry to call you cos I don’t know where to go from here to your house.”

“So Hartono didn’t tell you my address?”

“No. He just said that after the bus drop me at DPRD, I was asked to call him then he would pick me up. I’m near to DPRD now.”

“Oh Yoga, I don’t know where DPRD is. Can you talk with Mbak Minah to explain to you?”

“Oh, thank you Uncle. Sure I can talk with Mbak Minah. I didn’t know either where DPRD is and your house..”

Dan berbicaralah diriku dengan Mbak Minah. Mbak Minah bilang, dekat saja dari DPRD. Dia bakal datang dan menjemput diriku. Mataku dari tadi mencari-cari bayang-bayang becak. Tapi tak ada satupun. Aku tanya, mungkin aku bisa naik angkot Mbak, jalurnya apa? Tapi Mbak Minah bilang, biar dia jemput saja. Ya sudah, aku tunggu.

Dan aku menunggu. Dan aku terlupa. Mbak Minah pakai baju apa ya hehehe..

Aku berjalan dengan langkah-langkah kecil mengira-ngira. Aku kembali ke arah tikungan DPRD tadi. Tak berapa lama, ada Mbak-mbak bawa sepeda berhenti di pojok tikungan. Memarkir sepedanya dekat warung pojokan. Lalu seperti mencari-cari seseorang. Aku pandangi dia, aku hampiri ke arahnya. Dia juga menghampiri. Aku tersenyum sambil bertanya, “Mbak Minah ya?”

Alhamdulillah, bener.

Setelah kami bersalaman, dia tanya aku, mau naik apa. Lha, naik apa ya Mbak? Ya sudah jalan kaki saja, wong dia bawa sepeda. Katanya dekat saja. Sebelum tikungan DPRD itu, belok ke kanan, lalu lurus saja. Ya sudah kami jalan kaki, aku persilahkan dia naik sepedanya biar aku menyusul. Tapi Mbak Minah menolak. Tapi justru dia yang kasihan sama aku. Padahal jaraknya tidak jauh dan terasa dekat karena ada teman mengobrol. Kata Mbak Minah, “Mister tadi mau jemput, tapi Mister belum tahu jalan ke sini.” Idem dong.

Akhirnya, sambil mengobrol, sampai di rumah mister eh uncle..

Iya, dia Uncle-ku yang baru.. Lucu, jauh-jauh ke kota Ibu, malah menemukan uncle landa. Mengingatkanku akan Uncle G, yang sekarang di ILO Makassar. Bule yang masih tergolong rada sehat dibandingkan bule-bule lainnya yang kukenal di dunia kerjaanku yang dulu.

Uncle yang ini, I took him by surprise.
Ceritanya, aku sekarang rajin mencari sumber-sumber ide untuk tulisanku di masa depan. Berusaha keras aku mencari-cari ke arah mana nanti tulisanku. Alhamdulillah, bismillah, aku mulai dengan yang terdekat dari aku.. My beloved mother’s outfits, batik..

Dari Om Google, aku temukan website yang bertajuk language cloth. He he .. kok ya ada ya yang bisa menggabungkan apa yang kucari. Antara linguistik dan kain batik. Moga-moga saja terjemahannya bukan rayuan gombal. Di website itu, lebih banyak gambar kain berbagai motif dari berbagai negeri dengan beberapa kata pengantar. Aku jadi penasaran dan mengklik contact.. Aku cuma bermaksud mencari teman berdiskusi, teman bertanya, teman yang baik.

“Is this movement still going on? How can I contact you more? I am Yoga from Solo, Indonesia. I want to learn more about batik, especially about the language behind the paintings.”

Aku menebak-nebak, paling-paling pertanyaanku tidak digagas. Pengalaman sih…

Eh, besoknya, ada kiriman di gmail-ku. Cukup pendek, tapi bikin kaget.

“Did you contact my website? Now I am still in Karanganyar for film documenting about batik here.”

Yah, dari situ, aku jadi bergeliat lagi. Bule saja jauh-jauh mbela-belain tinggal di Karanganyar demi batik. Apalah terserah, antara memang mau mendokumentasikan atau berbisnis, yang penting bisa diajak komunikasi. Dan, memang Uncle ini baik sekali, membalas emailku, menanyakan apa yang bisa dibantu, menelpon, dan mempersilahkan aku main ke rumahnya, dan ke desa tempat ia membina sekelompok orang membatik.

Dan, mainlah aku ke rumahnya. Cerita banyak tentang yang dia tahu, cerita tentang batik, tentang Ibu. Dia perlihatkan koleksi-koleksinya dan aku tunjukkan dua kain batik Ibu. Tapi aku sama sekali tidak tahu tentang motif dan kualitasnya. Yang aku tahu, Ibu sudah mewirunya. Aah..

Petualangan ke desa belum dimulai. Aku mesti menyiapkan kebutuhanku, sehingga nanti cucuk jika bertandang ke sana. Pekan ini, Uncle balik ke Amrik. Agustus pertengahan, kembali lagi ke sini. Dan, aku dipesan, hubungi Hartono kalau mau ke desa, selama dia ada di Amrik. Hartono juga baik, santun. Dia datang setelah aku berbincang banyak dengan Uncle, bahkan keliling-keliling halaman belakang. Tadi dia sedang di desa, sinyalnya terganggu. Karena itu dia susah dihubungi. Kata Hartono, kalau aku mau pergi ke desa, sms dulu saja. Agak susah transportasi ke sana. Biar nanti dia jemput aku saja di pertigaan.

0 komentar: