Batik on the way
Paruh awal tahun 2008 ini terjadi batik booming. Ulasan tentang batik berulang ditayangkan di media televisi, dimuat di media cetak, dan di-upload di dunia maya. Para penyiar stasiun televisi juga berbusana batik, apalagi stasiun di Solo dan Jogja. Maksudnya, di stasiun televisi (ada TA TV, TVRI Surabaya, dan Jogja TV), bukan stasiun Jebres, Balapan, Purwosari, Lempuyangan, dan Tugu.
Festival Batik semarak diselenggarakan, pagelaran busana dengan berbagai model gaun berbahan batik ditampilkan di kota-kota besar. Artis-artis tampil cantik dengan batik. Corak kontemporer dengan potongan yang unik dan lucu menjadi tawaran dan laris diserbu. Para pemasok semakin gencar dengan mengasah kreativitas rancangan, dan para konsumen pun dijejali berbagai pilihan.
Dalam suasana gemuruh batik 2008 ini, terjalin hubungan yang berkaitan dengan pasar. Ada tawaran, ada permintaan. Ada ide, ada kreativitas, ada pilihan. Pilihan pun didasari dengan syarat, mencolok perhatian. Agaknya, mencolok perhatian menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Sesuatu yang mencolok, sebenarnya bergantung pada indera yang dimiliki manusia, indera penciuman, pendengaran, penglihatan, rasa, dan kulit. Karena pakaian berkaitan dengan penampilan, indera yang mendominasi adalah penglihatan. Bagaimanapun, secara umum, yang ditampakkan, secara visual, tontonan, selalu gampang merebut perhatian.
Sebenarnya, apa sih yang menyetir hasrat manusia untuk merebut perhatian? Apa sebatas pada indera penglihatan? Belajar dari tren batik saat ini, keberadaan update tren yang berkembang menjadi jelas bagiku. Pasalnya, ini berangkat dari batik, seni gambar yang terlukis di atas kain. Kalau dirunut dari asal muasalnya, batik memiliki kekhasan tersendiri karena usia batik dikonsumsi sudah cukup tua. Konsumsi awal, konon, berangkat dari kalangan dalam bangunan keraton, lalu berangsur ke kalangan publik di luar tembok. Corak yang diminati pun bisa ditelusuri. Dan minat terhadap corak itu yang terjadi saat ini. Bukan sekadar corak, tetapi juga rancangan dan fungsi. Jika dahulu kala, yang menentukan minat akan corak dan fungsi adalah kalangan dari kerajaan, pergeseran terjadi. Pasar-lah yang kini memiliki kewenangan untuk menentukan corak, fungsi, dan rancangan. Adakah indera rahayat takluk oleh pasar?
Selera juga merupakan hak publik dan personal. Jika mau digugah lebih lanjut, selera tidak tidur. Meski demikian, selera juga dimungkinkan terkondisi dari sesuatu yang biasa terlihat. Selera berarti kenyamanan bersifat subjektif. Dan inilah sebenarnya yang potensial dimainkan pasar. Ada tugas yang terus dilakukan pasar, yakni berusaha keras mengkondisikan dan mendikte apa saja yang bisa jadi terbiasa dilihat. Kondisi ini diciptakan hingga melahirkan bagaimana konsumen merasa keinginan untuk mendapatkan rasa nyaman. Keinginan untuk mengonsumsi karena tren.
Apakah batik cuma sekadar tren? Salahkah konsumen yang terjebak dalam tren batik? Ada beberapa dari kalangan dunia fesyen yang mengungkapkan harapan mereka agar batik tak sekadar menjadi tren sesaat. Dan kita pun kembali menoleh pada kekuatan pasar. Apakah memang benar pasar satu-satunya kekuatan yang mampu mengendalikan. Ini karena istilah tren cenderung lekat dengan kata pasar. Dari yang kuamati, tren berarti arus besar yang berhasil merebut perhatian dan dikonsumsi mayoritas konsumen, terutama di era dijilatisasi ini eh digitalisasi ...
(Needed to be continued and criticized urgently)
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar