Batik in this way
Pengunjung Museum Batik Danar Hadi siang itu cuma aku seorang. Sepertinya, biasanya datang berombongan. Mungkin saja jarang ada yang nongol surangan. Jadi, ide bertanya cuma datang dari diriku, menggali apa yang dituturkan Mbak pemandu museum. Aku percaya, Mbak-nya pasti sudah melalui berbagai training untuk memandu, juga pastinya fasih dengan isi yang terkandung dari tiap kain batik yang tersampir. Pastilah, ada staff development tertentu yang diterapkan, demi museum yang memuat salah satu local world heritage dari kota Solo ini.
Meski memang lokal, tapi dari zaman kolonial, batik sudah merebut perhatian dunia. Noni-noni landa yang masing-masing namanya tertempel di depan beberapa helai kain batik ini contohnya. Kata Mbak pemandu museum, koleksi ini adalah hasil karya desain para noni Belanda. Mungkin saja para noni ini juga sampai dalam taraf memegang canting. Mengisi waktu di negeri tropis bumi Hindia Belanda. Ada juga dari kalangan sinyo, di sisi seberang koleksi karya para noni. Kalau yang ada di bagian ini, motifnya merujuk pada motif yang berlaku di keraton saat itu. Tapi tidak keseluruhan. Ada larangan meniru-niru motif keraton bagi yang bukan kerabat keraton. Ada juga motif yang memuat dongeng-dongeng, dongengnya orang Eropa. Contohnya, si tudung merah. Gambar yang terlukis, memang ada bulatan-bulatan merah di hamparan kain itu. Juga ada yang berkisah seputar sejarah. Nah ini, misalnya tentang perang Pangeran Diponegoro. Tapi aku tak langsung cerewet bertanya kenapa pilihannya jatuh pada perang sang Pangeran dari tanah Mataram.
Selain para landa, batik juga merebut perhatian kalangan warga keturunan China. Uniknya, menurut Mbak pemandu, yang memulai lebih dahulu adalah para landa. Meskipun, yang datang duluan adalah bangsa China. Rentang waktu pembuatan batik dibatasi dengan angka tahun 1910. Itu juga tertulis di keterangan singkat yang terpajang. Jadi, bisa dibedakan, batik pra-1910 dengan batik pasca-1910. Hampir mendekati tahun Kebangkitan Nasional. Otak-atik gathuk, semoga ini berarti, memang waktunya batik bangkit. Sebenarnya, yang membedakan adalah cara pewarnaan. Pra-1910, pewarnaan masih murni berasal dari alam. Ada akar-akaran, daun-daunan, hingga biji-bijian. Pasca-1910, pewarnaan mulai menggunakan zat tambahan. Pra-1910, bahkan ada koleksi kain yang bertajuk batik tiga negeri. Ini termasuk kain batik karya keturunan warga China. Umumnya, berasal dari kota Lasem. Jadi ingat, pernah tinggal di Lasem, kota tua pesisiran, tepatnya dari hulu sungai hingga muara pantai, waktu riset disaster management daerah banjir Rembang tahun 2001. Batik tiga negeri ini maksudnya, pewarnaan masing-masing warna dilakukan di tiga wilayah yang berbeda. Warna merah dikerjakan di Lasem, warna biru di Pekalongan, dan warna kecoklatan di Solo. (Asyik ya, petugas yang bawa kain, bisa jalan-jalan. Mungkin program officer ya, terus mesti minta acece supervisor kalau mau travel. Zaman itu, apa sudah dapat jatah per diem juga ya? Wah, kangen mantan-mantan sesama officer.)
Di satu gang, terpajang beberapa benda bukan kain. Berbagai jenis lilin malam terhidang. Mbak-nya menerangkan urutan pemakaian lilin, dan juga ada contoh dari masing-masing kain yang diproses. Kain demi kain itu tersampir di sisi atas pajangan lilin. Ada satu yang menarik perhatian, sederet lilin itu dibuat secara alami, cuma satu jenis lilin yang kata Mbak-nya diimpor dari Amerika, namanya microwax. Tapi rupanya, Mbak-nya juga belum begitu jelas terbuat dari bahan apa gerangan hingga harus diimpor. Juga bagaimana proses zaman dahulu ketika lilin microwax itu belum diimpor.
Nah, pada sesi memasuki ruang belakang, kami sempat bertanya sedikit kepada beberapa orang pekerja, tentang microwax ini. Sudah dari dulu memang lilin ini digunakan. Mereka pun tak tahu banyak bagaimana zaman sebelum microwax diimpor. Justru, zaman-zaman dahulu ada satu lagi jenis lilin tambahan yang sekarang tidak dipergunakan lagi. Namanya kote. Alasannya, harganya mahal sekali. (Andai ditambah –ka, tinggal minta kiriman dari Papua ya :) Ruang belakang ini sibuk sekali. Ada beberapa ruangan terbuka tempat para pekerja melakukan proses pembuatan batik. Dimulai dari para ibu-ibu, yang melukis kain dengan canting. Lalu di ruang lanjutan, ada ruang tempat para pekerja laki-laki yang mengecap, juga ada ruang terbuka untuk perebusan, pencelupan warna, penjemuran, hingga gudang tempat penyimpanan berbagai jenis lilin malam.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar