Senin, 26 Mei 2008

Batik by the way

Batik by the way

Ulasan keberadaan Museum Batik Danar Hadi beberapa kali sudah kubaca, dan sengaja kucari lewat bantuan Om Google yang baik hati. Di Solo, letak museum ini benar-benar di jantung kota di pinggir jalan Slamet Riyadi, jalan protokol yang seolah membelah sisi utara dan selatan kota.

Aku ke sana dari arah Gladak. Menawar becak yang tengah nangkring di depan Pusat Grosir. Dari situ, becak dikayuh pelan lurus dari poros Gladak yang sekarang berdiri patung Slamet Riyadi. Arah perjalananku mengikuti tatapan patung ini, ke barat. Becak berjalan di jalur kendaraan tak bermesin. Sesekali juga ada sepeda motor. Kendaraan bermotor sibuk hilir mudik di jalur dua arah yang lebarnya sekitar 8 kali jalur becak yang kulintasi ini. Iya, kira-kira, 4 kali lebih lebar pada satu arah. Karena ada dua jalur untuk arah yang berlawanan, jadi sekitar 8 karena memang tak ada jalur hijau pemisah di antara dua jalur.

Akhirnya, perjalanan semakin dekat. Jalur yang dilintasi becak kini agak berbeda. Becak tetap berjalan lurus ke arah barat, hanya saja lintasan setelah perempatan dekat hotel Novotel tampak beda karena didasari oleh paving block yang didominasi merah bata muda. Jalur sebelumnya, aspalan. Becak sudah memasuki kawasan city walk-nya kota Solo. Mendekati mall perdana yang dimiliki kota ini, Solo Grand Mall. City walk dipromosikan lewat media massa sebagai kawasan yang ramah pejalan kaki, arena publik untuk menikmati pajangan barang seni, daya tarik bagi para pelancong dari manca maupun domestik. Museum Danar Hadi ada di kompleks icon baru kota Solo ini.

Sebelumnya, becak juga melewati sebuah toko Danar Hadi. Di toko yang kedua kami lewati ini becak berhenti. Tepat di depan regol, pagar pintu masuk sebuah bangunan di sisi kirinya. Bangunan rumah kuno berdiri kokoh dengan halaman yang luas. Dua orang lelaki paruh baya yang berdiri di bagian dalam regol mempersilahkan masuk ke toko, untuk membeli tiket masuk dan langsung ke museum dari dalam toko. Toko ada di samping regol, sayap depan yang terpisah dari rumah besar itu.


Toko ini punya bangunan yang luas, halamannya agak lebih lebar dari trotoar. Kaca transparan melingkari toko ini, juga pintu masuknya. Tiket masuk kubeli di meja depan yang sekaligus sebagai meja kasir. Museum ada di belakang toko. Sebagaimana toko, ada banyak pajangan produk di sini. Yang terlintas saat menuju arah ke belakang, ada sederet blus dan kemeja batik untuk kaum hawa dan adam. Produk Danarhadi. Beberapa orang karyawan dan karyawati Solo tampak sibuk berlalu lalang, mengurusi produk-produk batik ini.

Di pintu masuk museum, yang juga kaca transparan, aku disambut seorang perempuan muda yang ramah. Setahuku, tadi sewaktu aku membeli karcis masuk, petugas di depan menghubungi rekannya yang di museum, meminta salah seorang untuk menemaniku, sebagai pengunjung. Dan, rupanya Mbak ini, yang usianya jauh lebih muda dari aku tentunya. Sambutannya ramah, dan segera ia jalani prosedur menerima tamu, mengucapkan selamat datang, beri penjelasan singkat tentang keberadaan museum, aturan-aturan atau larangan di dalam museum (dilarang ambil gambar kecuali nanti di belakang museum). Langkah kami mengikuti prosedur yang sudah digariskan. Ada tanda panah yang ditempel di lantai museum. Batik demi batik terlihat tersampir di gawangan.

Petak pertama yang dikenalkan adalah kain-kain batik buatan noni-noni Belanda. Kata Mbak-nya begitu. Tapi noni-noni ini mendesain motifnya saja. Proses berikutnya diserahkan pada pekerja-pekerja. Noni-noni? Konon begitu, kata Mbak-nya, karena mungkin para lelaki Belanda sudah sibuk mengurusi pemerintahan.

(Mengurusi pemerintahan itu, kalau pemerintahannya jadi langsing dan penduduknya yang jadi tambah gemuk-makmur bukan sebatas kalangan arya-arya bayaran, what a wonderful life..)

Batik- batik ini koleksi dari si empunya perusahaan Danarhadi, yang total berjumlah 1000 lembar. Yang ditampilkan di museum ada sekitar 300-an. Mbak-nya segera mengulang lagi cerita seputar toko pemilik Batik Danarhadi, tepat di bawah gambar foto sepasang suami istri si empunya perusahaan. Tuturan Mbak-nya dilengkapi silsilah singkat keluarga Santosa Abdullah.

Yang juga unik di museum ini, ada sebagian kecil pernak-pernik lain yang ditampilkan. Aksesoris pemanis. Ada gamelan, ada dakon kayu alias congklak, juga ada lemari-lemari kayu kuno. Dan, ternyata lemari-lemari itu sekaligus sebagai tempat penyimpanan kain mori putih. Kain-kain putih itu dipakai untuk menutupi koleksi batik-batik seusai jam tutup museum.
(tasih wonten lanjutanipun,dereng pepak, to be continued for the backside of this museum..)

0 komentar: