Selasa, 2008 Mei 27

Batik in this way

Pengunjung Museum Batik Danar Hadi siang itu cuma aku seorang. Sepertinya, biasanya datang berombongan. Mungkin saja jarang ada yang nongol surangan. Jadi, ide bertanya cuma datang dari diriku, menggali apa yang dituturkan Mbak pemandu museum. Aku percaya, Mbak-nya pasti sudah melalui berbagai training untuk memandu, juga pastinya fasih dengan isi yang terkandung dari tiap kain batik yang tersampir. Pastilah, ada staff development tertentu yang diterapkan, demi museum yang memuat salah satu local world heritage dari kota Solo ini.

Meski memang lokal, tapi dari zaman kolonial, batik sudah merebut perhatian dunia. Noni-noni landa yang masing-masing namanya tertempel di depan beberapa helai kain batik ini contohnya. Kata Mbak pemandu museum, koleksi ini adalah hasil karya desain para noni Belanda. Mungkin saja para noni ini juga sampai dalam taraf memegang canting. Mengisi waktu di negeri tropis bumi Hindia Belanda. Ada juga dari kalangan sinyo, di sisi seberang koleksi karya para noni. Kalau yang ada di bagian ini, motifnya merujuk pada motif yang berlaku di keraton saat itu. Tapi tidak keseluruhan. Ada larangan meniru-niru motif keraton bagi yang bukan kerabat keraton. Ada juga motif yang memuat dongeng-dongeng, dongengnya orang Eropa. Contohnya, si tudung merah. Gambar yang terlukis, memang ada bulatan-bulatan merah di hamparan kain itu. Juga ada yang berkisah seputar sejarah. Nah ini, misalnya tentang perang Pangeran Diponegoro. Tapi aku tak langsung cerewet bertanya kenapa pilihannya jatuh pada perang sang Pangeran dari tanah Mataram.

Selain para landa, batik juga merebut perhatian kalangan warga keturunan China. Uniknya, menurut Mbak pemandu, yang memulai lebih dahulu adalah para landa. Meskipun, yang datang duluan adalah bangsa China. Rentang waktu pembuatan batik dibatasi dengan angka tahun 1910. Itu juga tertulis di keterangan singkat yang terpajang. Jadi, bisa dibedakan, batik pra-1910 dengan batik pasca-1910. Hampir mendekati tahun Kebangkitan Nasional. Otak-atik gathuk, semoga ini berarti, memang waktunya batik bangkit. Sebenarnya, yang membedakan adalah cara pewarnaan. Pra-1910, pewarnaan masih murni berasal dari alam. Ada akar-akaran, daun-daunan, hingga biji-bijian. Pasca-1910, pewarnaan mulai menggunakan zat tambahan. Pra-1910, bahkan ada koleksi kain yang bertajuk batik tiga negeri. Ini termasuk kain batik karya keturunan warga China. Umumnya, berasal dari kota Lasem. Jadi ingat, pernah tinggal di Lasem, kota tua pesisiran, tepatnya dari hulu sungai hingga muara pantai, waktu riset disaster management daerah banjir Rembang tahun 2001. Batik tiga negeri ini maksudnya, pewarnaan masing-masing warna dilakukan di tiga wilayah yang berbeda. Warna merah dikerjakan di Lasem, warna biru di Pekalongan, dan warna kecoklatan di Solo. (Asyik ya, petugas yang bawa kain, bisa jalan-jalan. Mungkin program officer ya, terus mesti minta acece supervisor kalau mau travel. Zaman itu, apa sudah dapat jatah per diem juga ya? Wah, kangen mantan-mantan sesama officer.)

Di satu gang, terpajang beberapa benda bukan kain. Berbagai jenis lilin malam terhidang. Mbak-nya menerangkan urutan pemakaian lilin, dan juga ada contoh dari masing-masing kain yang diproses. Kain demi kain itu tersampir di sisi atas pajangan lilin. Ada satu yang menarik perhatian, sederet lilin itu dibuat secara alami, cuma satu jenis lilin yang kata Mbak-nya diimpor dari Amerika, namanya microwax. Tapi rupanya, Mbak-nya juga belum begitu jelas terbuat dari bahan apa gerangan hingga harus diimpor. Juga bagaimana proses zaman dahulu ketika lilin microwax itu belum diimpor.

Nah, pada sesi memasuki ruang belakang, kami sempat bertanya sedikit kepada beberapa orang pekerja, tentang microwax ini. Sudah dari dulu memang lilin ini digunakan. Mereka pun tak tahu banyak bagaimana zaman sebelum microwax diimpor. Justru, zaman-zaman dahulu ada satu lagi jenis lilin tambahan yang sekarang tidak dipergunakan lagi. Namanya kote. Alasannya, harganya mahal sekali. (Andai ditambah –ka, tinggal minta kiriman dari Papua ya :) Ruang belakang ini sibuk sekali. Ada beberapa ruangan terbuka tempat para pekerja melakukan proses pembuatan batik. Dimulai dari para ibu-ibu, yang melukis kain dengan canting. Lalu di ruang lanjutan, ada ruang tempat para pekerja laki-laki yang mengecap, juga ada ruang terbuka untuk perebusan, pencelupan warna, penjemuran, hingga gudang tempat penyimpanan berbagai jenis lilin malam.

Dolan ke Rumah Uncle..

Sabtu pagi pekan lalu, aku bertandang ke Karanganyar. Iya, ke rumah Uncle. Letak rumahnya masih di wilayah pusatnya kota Karanganyar. Aku naik bis jurusan Matesih dari terminal Tirtonadi. Cuma naik bis sekali, cuma Rp3000,- lagi, sudah melintasi dua distrik yang berbeda, antara Solo dan Karanganyar. Ingat di Seram dulu, kalau mau ke pasar di Gemba, Waimital dari kantor saja atau mau ke “pelpenyeb” (“pelabuhan penyeberangan kapal feri Seram-Ambon”) naik angkot eh angkudes ding mesti keluar Rp10.000,-. Duh, nanti bagaimana kalau BBM melejit.. Be Big Mouth.. Pesan dari Hartono, teman baruku, nanti aku turun saja di gedung DPRD. Setelah turun, telepon dia biar dia jemput aku.

Baru kali itu aku bertandang ke Karanganyar kota. Biasanya, daerah Karanganyar cuma kulewati. Bahkan cuma di garis-garis perbatasannya thok. Padahal, tidak jauh dari rumahku, juga termasuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Apalagi pabrik gula Colomadu itu, serasa seperti pulau Samosir di tengah-tengah danau Toba, he he.. Aku mesti belajar peta lagi ini, pingin tahu seperti apa sih batas-batas wilayah antara Solo, Sragen, dan Karanganyar. Sekalian buka google-earth. Tapi Karanganyar belum tampak jelas di google-earth. Dan aku pun menebak-nebak di mana letak DPRD.

Aku curiga ketika lewat sebuah bunderan, tapi tak kutemukan barisan gedung pemerintahan di sana. Berarti belum. Lalu, aku curiga lagi sewaktu melihat bendera partai yang dipasang berderet-deret di kiri kanan jalan. Mungkin ini jalur karpet merah menuju DPRD. Ternyata belum ada kompleks gedung pemerintahan juga. Maka, bertanyalah aku pada diriku sendiri. “Di mana sih ya DPRD-nya?”

He he he.. rupanya Mbak-mbak di sebelahku dengar. Untung tadi sudah basa-basi sedikit. Dia tertawa sambil tanya apa aku baru sekali datang ke sini. Aku juga tertawa. Mbak-nya janji mau ingatkan aku kalau sudah sampai di DPRD. Dia sendiri tujuannya ke Karangpandan. Bapak kernet di depanku juga kami pesan, tolong ingatkan kalau sudah lewat di DPRD. Ternyata arah ke DPRD masih harus melewati terminalnya duluan. Lalu persawahan. Lalu ada jalan menikung. Jalan protokol. Dan aku curiga lagi. Kali ini benar. Di sisi kiri, ada gedung kecoklatan bertuliskan “DPRD”. Aha, aku lebih sigap dibandingkan Mbak-nya dan Bapak Kernet. Lha iya, siapa yang butuh turun di situ ya..

Aku turun, tapi tidak tepat di depan gedung. Ada simpang ke jalan yang lebih kecil. Aku duduk di book. Apa itu book? Itu lho semacam tembok gorong-gorong yang bisa diduduki. Istilah itu akrab kudengar dari Ibu, ancer-ancer buat tukang becak belok, dari Pasar Gedhe ke arah rumah di Sama’an. Aku duduk sambil memencet nomor Hartono. Waduh, out of area.. Berulang kupencet, masih sama. Alhasil aku pencet nomornya Uncle.

“Good morning, Yoga!”…
He he he.. Morning juga Om. “I’ve tried to call Hartono, but his phone isn’t active. So I’m sorry to call you cos I don’t know where to go from here to your house.”

“So Hartono didn’t tell you my address?”

“No. He just said that after the bus drop me at DPRD, I was asked to call him then he would pick me up. I’m near to DPRD now.”

“Oh Yoga, I don’t know where DPRD is. Can you talk with Mbak Minah to explain to you?”

“Oh, thank you Uncle. Sure I can talk with Mbak Minah. I didn’t know either where DPRD is and your house..”

Dan berbicaralah diriku dengan Mbak Minah. Mbak Minah bilang, dekat saja dari DPRD. Dia bakal datang dan menjemput diriku. Mataku dari tadi mencari-cari bayang-bayang becak. Tapi tak ada satupun. Aku tanya, mungkin aku bisa naik angkot Mbak, jalurnya apa? Tapi Mbak Minah bilang, biar dia jemput saja. Ya sudah, aku tunggu.

Dan aku menunggu. Dan aku terlupa. Mbak Minah pakai baju apa ya hehehe..

Aku berjalan dengan langkah-langkah kecil mengira-ngira. Aku kembali ke arah tikungan DPRD tadi. Tak berapa lama, ada Mbak-mbak bawa sepeda berhenti di pojok tikungan. Memarkir sepedanya dekat warung pojokan. Lalu seperti mencari-cari seseorang. Aku pandangi dia, aku hampiri ke arahnya. Dia juga menghampiri. Aku tersenyum sambil bertanya, “Mbak Minah ya?”

Alhamdulillah, bener.

Setelah kami bersalaman, dia tanya aku, mau naik apa. Lha, naik apa ya Mbak? Ya sudah jalan kaki saja, wong dia bawa sepeda. Katanya dekat saja. Sebelum tikungan DPRD itu, belok ke kanan, lalu lurus saja. Ya sudah kami jalan kaki, aku persilahkan dia naik sepedanya biar aku menyusul. Tapi Mbak Minah menolak. Tapi justru dia yang kasihan sama aku. Padahal jaraknya tidak jauh dan terasa dekat karena ada teman mengobrol. Kata Mbak Minah, “Mister tadi mau jemput, tapi Mister belum tahu jalan ke sini.” Idem dong.

Akhirnya, sambil mengobrol, sampai di rumah mister eh uncle..

Iya, dia Uncle-ku yang baru.. Lucu, jauh-jauh ke kota Ibu, malah menemukan uncle landa. Mengingatkanku akan Uncle G, yang sekarang di ILO Makassar. Bule yang masih tergolong rada sehat dibandingkan bule-bule lainnya yang kukenal di dunia kerjaanku yang dulu.

Uncle yang ini, I took him by surprise.
Ceritanya, aku sekarang rajin mencari sumber-sumber ide untuk tulisanku di masa depan. Berusaha keras aku mencari-cari ke arah mana nanti tulisanku. Alhamdulillah, bismillah, aku mulai dengan yang terdekat dari aku.. My beloved mother’s outfits, batik..

Dari Om Google, aku temukan website yang bertajuk language cloth. He he .. kok ya ada ya yang bisa menggabungkan apa yang kucari. Antara linguistik dan kain batik. Moga-moga saja terjemahannya bukan rayuan gombal. Di website itu, lebih banyak gambar kain berbagai motif dari berbagai negeri dengan beberapa kata pengantar. Aku jadi penasaran dan mengklik contact.. Aku cuma bermaksud mencari teman berdiskusi, teman bertanya, teman yang baik.

“Is this movement still going on? How can I contact you more? I am Yoga from Solo, Indonesia. I want to learn more about batik, especially about the language behind the paintings.”

Aku menebak-nebak, paling-paling pertanyaanku tidak digagas. Pengalaman sih…

Eh, besoknya, ada kiriman di gmail-ku. Cukup pendek, tapi bikin kaget.

“Did you contact my website? Now I am still in Karanganyar for film documenting about batik here.”

Yah, dari situ, aku jadi bergeliat lagi. Bule saja jauh-jauh mbela-belain tinggal di Karanganyar demi batik. Apalah terserah, antara memang mau mendokumentasikan atau berbisnis, yang penting bisa diajak komunikasi. Dan, memang Uncle ini baik sekali, membalas emailku, menanyakan apa yang bisa dibantu, menelpon, dan mempersilahkan aku main ke rumahnya, dan ke desa tempat ia membina sekelompok orang membatik.

Dan, mainlah aku ke rumahnya. Cerita banyak tentang yang dia tahu, cerita tentang batik, tentang Ibu. Dia perlihatkan koleksi-koleksinya dan aku tunjukkan dua kain batik Ibu. Tapi aku sama sekali tidak tahu tentang motif dan kualitasnya. Yang aku tahu, Ibu sudah mewirunya. Aah..

Petualangan ke desa belum dimulai. Aku mesti menyiapkan kebutuhanku, sehingga nanti cucuk jika bertandang ke sana. Pekan ini, Uncle balik ke Amrik. Agustus pertengahan, kembali lagi ke sini. Dan, aku dipesan, hubungi Hartono kalau mau ke desa, selama dia ada di Amrik. Hartono juga baik, santun. Dia datang setelah aku berbincang banyak dengan Uncle, bahkan keliling-keliling halaman belakang. Tadi dia sedang di desa, sinyalnya terganggu. Karena itu dia susah dihubungi. Kata Hartono, kalau aku mau pergi ke desa, sms dulu saja. Agak susah transportasi ke sana. Biar nanti dia jemput aku saja di pertigaan.

Senin, 2008 Mei 26

Batik by the way

Batik by the way

Ulasan keberadaan Museum Batik Danar Hadi beberapa kali sudah kubaca, dan sengaja kucari lewat bantuan Om Google yang baik hati. Di Solo, letak museum ini benar-benar di jantung kota di pinggir jalan Slamet Riyadi, jalan protokol yang seolah membelah sisi utara dan selatan kota.

Aku ke sana dari arah Gladak. Menawar becak yang tengah nangkring di depan Pusat Grosir. Dari situ, becak dikayuh pelan lurus dari poros Gladak yang sekarang berdiri patung Slamet Riyadi. Arah perjalananku mengikuti tatapan patung ini, ke barat. Becak berjalan di jalur kendaraan tak bermesin. Sesekali juga ada sepeda motor. Kendaraan bermotor sibuk hilir mudik di jalur dua arah yang lebarnya sekitar 8 kali jalur becak yang kulintasi ini. Iya, kira-kira, 4 kali lebih lebar pada satu arah. Karena ada dua jalur untuk arah yang berlawanan, jadi sekitar 8 karena memang tak ada jalur hijau pemisah di antara dua jalur.

Akhirnya, perjalanan semakin dekat. Jalur yang dilintasi becak kini agak berbeda. Becak tetap berjalan lurus ke arah barat, hanya saja lintasan setelah perempatan dekat hotel Novotel tampak beda karena didasari oleh paving block yang didominasi merah bata muda. Jalur sebelumnya, aspalan. Becak sudah memasuki kawasan city walk-nya kota Solo. Mendekati mall perdana yang dimiliki kota ini, Solo Grand Mall. City walk dipromosikan lewat media massa sebagai kawasan yang ramah pejalan kaki, arena publik untuk menikmati pajangan barang seni, daya tarik bagi para pelancong dari manca maupun domestik. Museum Danar Hadi ada di kompleks icon baru kota Solo ini.

Sebelumnya, becak juga melewati sebuah toko Danar Hadi. Di toko yang kedua kami lewati ini becak berhenti. Tepat di depan regol, pagar pintu masuk sebuah bangunan di sisi kirinya. Bangunan rumah kuno berdiri kokoh dengan halaman yang luas. Dua orang lelaki paruh baya yang berdiri di bagian dalam regol mempersilahkan masuk ke toko, untuk membeli tiket masuk dan langsung ke museum dari dalam toko. Toko ada di samping regol, sayap depan yang terpisah dari rumah besar itu.


Toko ini punya bangunan yang luas, halamannya agak lebih lebar dari trotoar. Kaca transparan melingkari toko ini, juga pintu masuknya. Tiket masuk kubeli di meja depan yang sekaligus sebagai meja kasir. Museum ada di belakang toko. Sebagaimana toko, ada banyak pajangan produk di sini. Yang terlintas saat menuju arah ke belakang, ada sederet blus dan kemeja batik untuk kaum hawa dan adam. Produk Danarhadi. Beberapa orang karyawan dan karyawati Solo tampak sibuk berlalu lalang, mengurusi produk-produk batik ini.

Di pintu masuk museum, yang juga kaca transparan, aku disambut seorang perempuan muda yang ramah. Setahuku, tadi sewaktu aku membeli karcis masuk, petugas di depan menghubungi rekannya yang di museum, meminta salah seorang untuk menemaniku, sebagai pengunjung. Dan, rupanya Mbak ini, yang usianya jauh lebih muda dari aku tentunya. Sambutannya ramah, dan segera ia jalani prosedur menerima tamu, mengucapkan selamat datang, beri penjelasan singkat tentang keberadaan museum, aturan-aturan atau larangan di dalam museum (dilarang ambil gambar kecuali nanti di belakang museum). Langkah kami mengikuti prosedur yang sudah digariskan. Ada tanda panah yang ditempel di lantai museum. Batik demi batik terlihat tersampir di gawangan.

Petak pertama yang dikenalkan adalah kain-kain batik buatan noni-noni Belanda. Kata Mbak-nya begitu. Tapi noni-noni ini mendesain motifnya saja. Proses berikutnya diserahkan pada pekerja-pekerja. Noni-noni? Konon begitu, kata Mbak-nya, karena mungkin para lelaki Belanda sudah sibuk mengurusi pemerintahan.

(Mengurusi pemerintahan itu, kalau pemerintahannya jadi langsing dan penduduknya yang jadi tambah gemuk-makmur bukan sebatas kalangan arya-arya bayaran, what a wonderful life..)

Batik- batik ini koleksi dari si empunya perusahaan Danarhadi, yang total berjumlah 1000 lembar. Yang ditampilkan di museum ada sekitar 300-an. Mbak-nya segera mengulang lagi cerita seputar toko pemilik Batik Danarhadi, tepat di bawah gambar foto sepasang suami istri si empunya perusahaan. Tuturan Mbak-nya dilengkapi silsilah singkat keluarga Santosa Abdullah.

Yang juga unik di museum ini, ada sebagian kecil pernak-pernik lain yang ditampilkan. Aksesoris pemanis. Ada gamelan, ada dakon kayu alias congklak, juga ada lemari-lemari kayu kuno. Dan, ternyata lemari-lemari itu sekaligus sebagai tempat penyimpanan kain mori putih. Kain-kain putih itu dipakai untuk menutupi koleksi batik-batik seusai jam tutup museum.
(tasih wonten lanjutanipun,dereng pepak, to be continued for the backside of this museum..)

Batik on the way

Paruh awal tahun 2008 ini terjadi batik booming. Ulasan tentang batik berulang ditayangkan di media televisi, dimuat di media cetak, dan di-upload di dunia maya. Para penyiar stasiun televisi juga berbusana batik, apalagi stasiun di Solo dan Jogja. Maksudnya, di stasiun televisi (ada TA TV, TVRI Surabaya, dan Jogja TV), bukan stasiun Jebres, Balapan, Purwosari, Lempuyangan, dan Tugu.

Festival Batik semarak diselenggarakan, pagelaran busana dengan berbagai model gaun berbahan batik ditampilkan di kota-kota besar. Artis-artis tampil cantik dengan batik. Corak kontemporer dengan potongan yang unik dan lucu menjadi tawaran dan laris diserbu. Para pemasok semakin gencar dengan mengasah kreativitas rancangan, dan para konsumen pun dijejali berbagai pilihan.

Dalam suasana gemuruh batik 2008 ini, terjalin hubungan yang berkaitan dengan pasar. Ada tawaran, ada permintaan. Ada ide, ada kreativitas, ada pilihan. Pilihan pun didasari dengan syarat, mencolok perhatian. Agaknya, mencolok perhatian menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Sesuatu yang mencolok, sebenarnya bergantung pada indera yang dimiliki manusia, indera penciuman, pendengaran, penglihatan, rasa, dan kulit. Karena pakaian berkaitan dengan penampilan, indera yang mendominasi adalah penglihatan. Bagaimanapun, secara umum, yang ditampakkan, secara visual, tontonan, selalu gampang merebut perhatian.

Sebenarnya, apa sih yang menyetir hasrat manusia untuk merebut perhatian? Apa sebatas pada indera penglihatan? Belajar dari tren batik saat ini, keberadaan update tren yang berkembang menjadi jelas bagiku. Pasalnya, ini berangkat dari batik, seni gambar yang terlukis di atas kain. Kalau dirunut dari asal muasalnya, batik memiliki kekhasan tersendiri karena usia batik dikonsumsi sudah cukup tua. Konsumsi awal, konon, berangkat dari kalangan dalam bangunan keraton, lalu berangsur ke kalangan publik di luar tembok. Corak yang diminati pun bisa ditelusuri. Dan minat terhadap corak itu yang terjadi saat ini. Bukan sekadar corak, tetapi juga rancangan dan fungsi. Jika dahulu kala, yang menentukan minat akan corak dan fungsi adalah kalangan dari kerajaan, pergeseran terjadi. Pasar-lah yang kini memiliki kewenangan untuk menentukan corak, fungsi, dan rancangan. Adakah indera rahayat takluk oleh pasar?

Selera juga merupakan hak publik dan personal. Jika mau digugah lebih lanjut, selera tidak tidur. Meski demikian, selera juga dimungkinkan terkondisi dari sesuatu yang biasa terlihat. Selera berarti kenyamanan bersifat subjektif. Dan inilah sebenarnya yang potensial dimainkan pasar. Ada tugas yang terus dilakukan pasar, yakni berusaha keras mengkondisikan dan mendikte apa saja yang bisa jadi terbiasa dilihat. Kondisi ini diciptakan hingga melahirkan bagaimana konsumen merasa keinginan untuk mendapatkan rasa nyaman. Keinginan untuk mengonsumsi karena tren.

Apakah batik cuma sekadar tren? Salahkah konsumen yang terjebak dalam tren batik? Ada beberapa dari kalangan dunia fesyen yang mengungkapkan harapan mereka agar batik tak sekadar menjadi tren sesaat. Dan kita pun kembali menoleh pada kekuatan pasar. Apakah memang benar pasar satu-satunya kekuatan yang mampu mengendalikan. Ini karena istilah tren cenderung lekat dengan kata pasar. Dari yang kuamati, tren berarti arus besar yang berhasil merebut perhatian dan dikonsumsi mayoritas konsumen, terutama di era dijilatisasi ini eh digitalisasi ...
(Needed to be continued and criticized urgently)